Wanita dan Budaya

Budaya dunia seringkali menempatkan Pria dihierarki teratas. Sedangkan perempuan, yang kerap dikaitkan pada kodratnya sebagai mahluk yang lemah dan butuh perlindungan, akhirnya hanya mendapat peran sebagai pendamping yang hanya memiliki sedikit hak sebagai penentu, namun di bebani dengan berbagai kewajiban. Dalam beberapa tatanan kultur budaya yang ada di Indonesia. Terdapat contoh-contoh dimana perempuan hanyalah sebagai gender yang terpinggirkan. Ibu hanya dianggap sebagai pendatang dikeluarga Ayah. Anak laki-laki pun dianggap sebagai anak yang berharga karena akan membawa marga dan nama keluarga Maka itu, semua anak yang lahir akan memakai marga yang sama dengan ayahnya. Hingga tak jarang ditemui kemirisan, bila seorang perempuan Batak yang hanya bisa melahirkan anak-anak perempuan, maka dengan segenap kerelaan hati dianjurkan untuk membiarkan suaminya menikahi wanita lain demi mendapatkan anak laki-laki. Belum lagi konteks poligami yang mengatas namakan agama namun diimplementasikan secara salah karena hanya berkiblat pada pemuasan hasrat birahi semata.

Keadaan itu harus diterima, di jalankan dan dibiasakan menjadi hal yang lumrah demi menjunjung tinggi adat istiadat. Setidaknya, begitulah doktrin sesat yang harus diterima oleh kaum wanita yang terpaksa berdiam pasrah pada “Comfort Zone” dimana ketidak wajaran harus menjadi bagian dari hidup mereka turun temurun. Dan akhirnya, wanita sampai saat ini masih menjadi kaum marjinal. Meski tuntutan persamaan gender semakin keras disuarakan di belahan bumi manapun. Benturan-benturan itu terkadang menghadirkan dilematis tersendiri pada pola pikir khususnya untuk wanita dibelahan dunia timur yang masih terkukung pada budaya dan agama. Kodrat sebagai istri dan peran sebagai Ibu pun menjadi andil bagi keterbatasan pada tujuan untuk menjadi sosok wanita yang mandiri dan berani.
Namun semua tetap harus diperjuangkan, baik secara indvidu atau kelompok. Karena wanita dimana dan apapun bentuk dan kepribadiannya, adalah sosok manusia yang perlu dan harus mendapat tempat terlayak dengan tatatan kehidupan yang wajar tanpa harus mengalah dan selalu menjadi pihak yang dikorbankan atas nama adat istiadat dan agama sekalipun. Keselarasan dan harmonisasi untuk berdiri tegak antara kodrat, budaya dan pola pikir mandiri sebagai sosok perempuan haris terus ditanamkan, di aplikasikan dalam hidup dan tentunya berani untuk menangkis segala resiko sosial dengan keluwesan sebagai seorang perempuan




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: